Terbit pertama kali pada tahun 1972, terdiri dari 4 Jilid. Kisah ini diawali dengan serangan puluhan tikus terhadap manusia. Tikus tikus ini dipimpin oleh seekor kucing yang tugasnya mengawasi bahkan mematikan sasarannya jika perlu. Gerombolan ini mengincar sesuatu, awalnya adalah sepucuk surat. Namun mereka sering menggangu ketentraman sehingga beritanya tersebar luas.

Sancaka (alias Gundala) bertamu ke rumah seorang wanita bernama Novita, mereka pernah berkenalan di sebuah toko buku. Di rumah itu Sancaka berkenalan juga dengan temannya, bernama Sakti (cewek juga). Sancaka rupanya jatuh cinta pada pandangan pertama setelah melihat Sakti. Setelah mendengar berita radio tentang serangan gerombolan tikus, Sakti buru2 pamit. Sancaka mengantarnya ke rumah yang beralamat jalan Melati 17.

Sampai di depan rumahnya, terdengar suara pria yang teriak kesakitan. Sakti segera masuk rumah dan melihat kakaknya, mas Surya, sedang diserang kelompok tikus. Sancaka segera berubah menjadi Gundala dan menolong dengan mengeluarkan petir. Pemimpin tikus2 tersebut adalah seekor kucing. Si kucing segera meminpin para tikus2 untuk kabur. Setelah aman, Sancaka masuk ke dalam. Hal ini membuat Sakti kurang bersimpati, karena menganggap Sancaka seorang pengecut. Sancaka melihat Surya sedang membuat sebuah penelitian di kamarnya. Ternyata Surya sedang meramu serum yang bisa membuat binatang jadi tidak terlihat. Tetapi setelah beberapa waktu kelinci percobaan itu jadi terlihat dan wajahnya jadi mengerikan dan akhirnya beberapa saat kemudian, mati.

Sancaka yang jatuh cinta jadi sering mengunjungi rumah Sakti, namun Sakti masih menjaga jarak walaupun ada sedikit ketertarikan. Suatu malam, Sancaka memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya, namun sebelum kata2nya keluar… ada teriakan dari Surya. Surya sedang diculik oleh segerombolan penjahat. Gundala kembali datang, tapi para penjahat itu segera melempar gas yang membuat langkah Gundala terhenti. Untungnya Surya tidak jadi diculik. Sakti kembali merasa Sancaka tipe pengecut, karena 2 kali kejadian tetapi yang muncul selalu Gundala. Sancaka seperti merasakan hal ini dan dapat menenangkan (alias merayu) Sakti.

Sejak kejadian itu Gundala selalu berjaga jaga, namun dia kecolongan. Langkahnya dihentikan kelompok tikus, kucing dan anjing. Hal ini membuat Gundala sangat kerepotan dan para penculik berhasil menjalankan tugasnya. Surya berhasil diculik. Kemudian, Gundala berbincang bincang dengan Sakti dan menanyakan Sancaka. Respon Sakti rupanya tidak menunjukkan simpati walaupun di dalam hati Sakti… berusaha mencintai Sancaka.

Gundala segera berpatroli dan berhasil menggagalkan sebuah misi kelompok itu dan menginterogasi seorang penjahat. Dia mengaku dari kelompok Tangan Iblis. Sebelum menyebutkan lokasi markas mereka, orang itu mati.

Surya yang bernama lengkap Profesor Suryana ternyata diculik gerombolan yang dipimpin Irphan. Irphan mencoba membujuk Surya untuk memberikan keterangan serum penghilang itu.

Di tempat lain Gundala berdiskusi dengan polisi dan menyimpulkan adanya 2 kelompok yang berbeda. Kelompok pertama adalah Ginto yang memimpin Telapak Iblis. Gundala beraksi ke markas Ginto, tetapi terkena jebakan ketika mendengar bahwa kelompok lain itu dipimpin Irphan. Gundala akhirnya bisa keluar dari jebakan ini namun gerombolan Telapak Iblis sudah menghilang.

Di tempat Irphan, karena Surya tidak mau bicara akhirnya Irphan memutuskan untuk menculik Sakti.

Gundala yang sedang menjaga tempat sakti, melihat 2 orang mendatangi rumah Sakti pada tengah malam. Secara mendadak Gundala menyerang mereka, dan menginterogasi salah satunya. Dia mengaku kalau disuruh menculik Sakti oleh Prof. Irphan. Belum banyak bicara, temannya yang lain dapat memukul tengkuk Gundala hingga tersungkur. Mereka segera melarikan diri dengan mobil. Gundala setelah sadar secepat kilat mengejar mobil itu dan berusaha menahan lajunya. Mobil itu terseok seok sebelum akhirnya terjatuh dan meledak.

Di markas Telapak Iblis, Ginto baru sadar bahwa yang dia jebak adalah Gundala dan telah melarikan diri dari jebakan. Dari anak buahnya, Ginto mengetahui rencana penculikan Sakti oleh Irphan. Maka mereka berniat lebih dulu menculik Sakti, lalu meminta tebusan ke Irphan.

Sancaka yang sedang di rumah Sakti, memberitahu bahwa menurut “temannya” yang seorang detektif, penculik Surya adalah Irphan. Ketika pembicaraan mulai hangat, Sancaka tidak dapat menahan diri untuk mengatakan bahwa dia mau melamar Sakti. Karena sikap Sakti yang bertambah bingung, Sancaka memilih pergi. Namun ada beberapa orang yang datang bertamu untuk menemui Sakti dengan membawa sepucuk surat. Ternyata mereka malah menculik Sakti, Sancaka yang dikeroyok tiga orang tidak dapat berbuat banyak. Pingsan.

Setelah siuman , ternyata ada kelompok lain yang mau menemui Sakti, Sancaka berkata bahwa Sakti sedang berjalan jalan bersama Gundala. Ternyata kelompok itu mau menculik Sakti juga dan tidak puas akan jawaban dari Sancaka. Sancaka habis dihajar, sampai pingsan lagi.

Di tempat lain Sakti sedang diberitahu bahwa dia sengaja diculik. Mereka adalah teman teman detektif Sancaka, walau mereka menghajar Sancaka. Karena itu kata mereka adalah sandiwara untuk mengamankan Sakti dari penculik yang sebenarnya. Sakti walaupun bimbang, terpaksa percaya saja.

Di tempat Irphan, dia memarahi anak buahnya atas kegagalan menculik Sakti. Saat itu, adasurat yang dikirim oleh sebuah panah. Isinya adalah: Telapak Iblis meminta tebusan sebesar Rp 25jt untuk Sakti. Tempat bertemunya ada di Kaki Gundukan di Selatan Tikungan Merah.

Gundala yang menyelidiki markas Ginto, berhasil menyelamatkan Sakti.

Ginto yang akhirnya mengetahui Sakti sudah hilang tetap berniat mengambil uang tebusan. Walau ini berarti perang terbuka, karena Sakti sudah tidak ada. Di tempat yang ditentukan, prof Irphan dan kelompoknya sudah bersiap dengan senjata lengkap, begitu juga kelompok Ginto. Mereka masing2 bersembunyi di balik batu batu besar. Ketika anak buah Irphan menyerahkan uang, kelompok Ginto mulai menembak. Terjadilah perang senjata.

Ketika perang senjata berlangsung seru, salah satu anah buah prof Irphan mendeteksi adanyaderu mobil menuju tempat itu, sehingga Irphan dan kelompoknya segera melarikan diri. Kelompok Ginto mengira mereka telah menang dan mencoba mengambil uang. Ternyata mereka telah dikepung polisi dan Gundala, akhirnya mereka menyerahkan diri.

Setelah aman, kelompok Irphan segera mengalihkan sasarannya ke rumah Sakti. Karena mereka mengetahui bahwa Sakti ternyata sudah tidak di tangan kelompok Ginto. Sampai dekat rumah Sakti. Mereka berusaha mengalihkan perhatian pengawal rumah Sakti dan berhasil mengelabui tentara dan menculik Sakti.

Gundala yang baru tiba di rumah Sakti melihat para pengawal tergeletak. Untunglah sebelum mobil para penculik menjauh, Gundala dapat membuntutinya.

Di tempat Irphan, Surya terpaksa menuruti permintaan Irphan karena Sakti diancam akan dikuliti (sadis…). Bersamaan dengan itu Gundala mendobrak ruangan laboratorium. Anak2 buah Irphan segera memberikan perlawanan. Irphan masih berhasil menghajar Surya dan Sakti lalu mengurung mereka di ruangan kaca. Selain itu, terjadi juga pemberontakan ilmuwan yang pro dan kontra Irphan. Melihat ini Irphan segera mengeluarkan semua binatang2nya. Suasana yang kacau balau ini diperparah dengan kobaran api yang makin besar.

Irphan yang tidak mengetahui efek berbahaya serum Surya, segera menyuntikkan dirinya dengan serum yang membuat dia tidak terlihat. Sasarannya adalah Gundala, Gundala cukup kewalahan menghadapi lawannya yang tidak terliihat itu. Tetapi berangsur angsur Irphan terlihat juga, dia berubah menjadi sosok raksaksa yang menyeramkan. Gundala akhirnya dapat mengakhiri pertarungannya dengan memukul jatuh Irphan ke kobaran api yang besar.

Di luar, polisi telah mengamankan situasi. Karena kobaran api mengganas, terjadilah ledakan ledakan yang maha dahsyat menghancurkan gedung. Sakti yang melihat itu jadi menangis hebat karena mengira Gundala mati.

Dari jauh, Gundala memperhatikan sikap Sakti, akhirnya sadar bahwa Sakti mencintai Gundala bukan Sancaka. Akhirnya Gundala berjalan gundah dengan melepas kain penutup wajah, sehingga wajah Sancaka terlihat. Dia merasakan kegagalan cinta dan memilih untuk melupakan rasa cintanya terhadap Sakti.

Akhir cerita, prof Suryana membakar dokumen2 tentang serum penghilang. Agar tidak membuat petaka dikemudian hari. TAMAT.